Senin, 19 Agustus 2013

Mbah Uti

Lyla terpekur di samping gundukan tanah yang masih basah, pandangan matanya kosong tertuju pada gundukan itu, berkali-kali dielusnya permukaan tanah itu seakan ia mengelus orang yang amat dikasihinya. Bibirnya terus melafalkan doa-doa dan sesekali terdengar kalimat ratapan lirih seolah ada penyesalan yang mendalam.



" Maafkan aku mbah uti.....harusnya aku ada saat terakhirmu, harusnya aku tak meninggalkanmu...." terisak ia dalam suasana sendu area di pemakaman itu. Sudah sehari yang lalu Nenek Lyla dimakamkan disana.
"sudah nduk....kita pulang saja...tidak baik meratap disini, kasihan nenekmu, yang beliau butuhkan sekarang adalah doamu..." Perempuan separuh baya itu merangkul pundak Lyla dan membimbingnya untuk bangkit dan meninggalkan makam neneknya.
" iya ibu....". jawabnya purau sambil terus memandangi makam mbah utinya.
######

" Ibu.....kemari bu..." Lyla menjerit memanggil ibunya, berdiri mematung di depan kamarnya, memandang kedalam kamar disamping tempat tidurnya..
" ada apa sih teriak-teriak gitu?" Ibunya mendekat, Lyla hanya menunjuk kedalam kamar.
kaget bercampur heran menyaksikan pemandangan dalam kamar tersebut, disertai bau pesing yang merebak ke luar. Mbah uti atau tidak lain ibunya ibu Lyla duduk jongkok disamping ranjang, basah dibawah tempat duduknya.
"Aduh ibu...kenapa ndak bilang kalo mau kencing kan bisa saya antar ke toilet bu...." Ibu Lyla segera menghampiri nenek yang sudah berusia sekitar 90 tahun itu, tidak ada yang tau tepatnya tahun berapa nenek dilahirkan, karena pada waktu itu tidak dicatat pada Akta kelahiran atau mungkin belum ada kertas ataupun pena untuk menuliskan moment bersejarah itu.
Segera dipapahnya mbah uti ke kamar mandi menggantikan seluruh pakaiannya yang basah oleh air kencingnya, sesekali terdengar Ibu Lyla menggerutu karena kesulitan untuk menahaninya agar tetap bisa berdiri supaya dapat dipakaikan bajunya. tongkat kecil yang biasa menyangga tubuhnya yang bungkuk tertinggal dikamar Lyla. Sementara Lyla membersihkan kamarnya, tak henti2nya menggerutu dan omelan2 kecil pun meluncur bebas dari mulutnya.
" Ahh...mbah uti ini bikin kerjaan aja! kenapa mau kencing aja harus di kamarku sih? "  begitulah omelan2 itu menjadi musik yang mengiringi sepanjang ia membersihkan kamarnya.
" sudahlah lyl, ndak usah ngomel2 kayak gitu, tau sendiri kan kalo mbah uti emang sudah pikun?" ibu Lyla jadi ikutan geram pada sikap lyla yang keterlaluan.
Ribut2 kecil yang bersumber dari mbah uti hampir setiap hari terjadi dalam rumah itu. Darah muda Lyla yang tak mau repot dan ingin selalu bebas menjadi pemicu konflik ketidak nyamanannya terhadap perilaku pikunnya mbah uti. Ibunya dengan telaten dan sabar berusaha untuk menjaga dan melayani mbah uti dengan sebaik-baiknya, meskipun tak ayal pernah juga mampir rasa kesal dan capek dalam hatinya, namun itu semua dirasa tak sebanding dengan pengorbanan mbah uti kepadanyanya. sehingga kerap kali lyla mendapat kultum jika sikapnya pada Mbah uti kurang baik
" kamu tu harusnya bersyukur lyl,mbah uti diberikan umur panjang, dari kecil kamu masih sempat diasuh mbah uti, sekarang giliran mbah yang butuh kasih sayang kamu ya yang ikhlas..jangan sambil ngomel2 terus... kamu nanti juga akan tua, ibu juga bakal tua, ibu ada karena perjuangan mbah utimu, hingga adanya kamu pun tak lepas dari darah mbah uti, kamu harusnya lebih bisa menyayangi beliau, seperti ibu menyayangi beliau, perjuangan seorang ibu untuk melahirkan tu berat nduk....apa nanti kalo ibu seperti mbah uti juga akan kamu perlakukan seperti itu?" begitulah kultum yang dirasakan menohok jantungnya.
######

Siang itu langit tampak cerah, awan2 kecil yang berarak menjadi lukisan indah langit yang maha luas, Lyla sudah berkemas dan siap berangkat untuk mengikuti study tour yang diadakan sekolahnya, ransel besar sudah menggantung dipunggungnya, iapun berpamitan kepada seisi rumah yang saat itu sedang banyak saudara2 ibunya disana.
" Nduk...apa gak bisa dibatalkan rencanamu tamasya ini?mbahmu sakit nduk..." ibu Lyla mendekapnya dengan mata berkaca-kaca.
" mana mungkin bu? kita sudah bayar penuh, dan semua memang berangkat hari ini..." lylapun menatap ibunya dengan berkaca-kaca, sesekali ditengoknya mbah uti yang terbaring lemah, kondisinya menurun sejak kemarin sore. dihampirinya serta dicium tangannya smbil dibisikkan kata ditelingannya
" mbah, Lyla berangkat study tour dulu ya....mbah uti harus sembuh ya...Lyla cuma 3hari aja kok mbah.." bisiknya pelan. Mbah uti hanya mengangguk dengan senyumnya.
lyla berangkat diantar tantenya sampai disekolahan. ia merasa tak perlu menghawatirkan kondisi mbah uti, karena sering juga mbah uti tiba-tiba kondisinya menurun tapi sehari kemudian kembali lagi sehat seperti semula.
Raut penuh semangat dan tawa keceriaan tergambar pada wajah teman-teman Lyla yang berebut masuk kedalam bus yang akan mengangkut mereka ke tempat wisata di daerah Bandung.  namun Lyla tertunduk tiba-tiba ada gurat penyesalan yang mendalam, dalam hatinya berkecamuk kenapa ia tetap ikut berangkat bagaimana kalau ia tak sempat bertemu mbah uti lagi? "Ahh,,,pasti mbah uti akan baik-baik saja." batinnya berusaha menepis kegelisahan dan ikut berbaur dalam keceriaan canda teman-temannya dalam perjalanan yang lumayan lama.
belum sempat Bus itu sampai pada lokasi yang dituju telepon seluler lyla berdering, dilihatnya sebuah panggilan dari kakaknya, segera ia mengangkat telepon setelah mengucapkan salam pucat wajah lyla membuat teman yang duduk disampingnya bertanya, " kenapa Lyl?"
tangis Lyla pun pecah " mbah uti Na....mbah utiku sudah tidak ada...." jawabnya seraya terisak.
ada penyesalan yang sangat menyayat hatinya. suasana menjadi sendu, basah, dan mendung.. gumpalan awan hitam dan rintik buih kesedihan mengiringi perjalanannya.
"Maafkan aku mbah uti......" bisiknya disela isak tangis.



Persermbahan untuk Mbah Uti Tercinta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar