Minggu, 28 Juli 2013

Malaikat Tua dengan Tongkat Paralon

Sore itu awan hitam masih menggantung menyelimuti langit kota, basah rerumputan dan jalan masih belum kering bekas gerimis yang beberapa saat menghujam bumi. Kantor sudah sepi, jam pulang kami selama Ramadhan maju satu jam lebih awal dibanding bulan-bulan sebelumnya. Aku tinggal sendiri di ruang depan tepat menghadap kegerbang masuk. Disitu tempat dimana aku menyelesaikan segala macam administrasi. Aku berkemas merapikan file-file setelah sholat ashar agar segera bisa pulang juga. Namun tiba-tiba ku mendengar suara langkah kaki seperti masuk ke area kantor, aku pun tak bisa melihatnya secara langsung karena terhalang tembok.



" Assalamu'alaikum..." Suara serak seorang laki-laki, membuatku bergegas melongokkan kepala kearah pintu masuk. Mataku sekelebat menangkap sesosok laki-laki tua yang segera menghilang di balik tembok. Sepertinya dia seorang pengemis' begitu pikirku
" Waalaikumussalam.... Silahkan masuk pak..."
" Alhamdulillah, masih ada orang." suara pk tua itu kembali, lirih sepertinya bergumam pada dirinya sendiri.
Pak tua itu tidak masuk hanya menunggu di teras depan kantor.
" tunggu sebentar ya Pak...." Aku pun meneruskan menyelesaikan memakai kaos kaki yang tinggal sebelah. segera ku bergegas menengok pak tua itu dengan mengambil selembar uang dari dompetku yang sudah tak berpenghuni lagi kecuali lembaran satu-satunya itu yang ku ambil.
Aku terbelalak melihat pemandangan yang ada di depan mataku. Seorang bapak tua yang mungkin berumur sekitar 60 tahun duduk di kursi panjang di teras. dengan pakaian koko putih yang sudah usang namun terlihat masih bersih, bercelana pendek tak menutupi lututnya, sesuatu yang membuat hatiku menjerit, "Astagfirulloh... dalam hatiku tak henti-hentinya mengucap istighfar, kedua kaki bapak tua itu mengecil seperti sedang menderita penyakit yang menguras habis daging kakinya, hanya tinggal tulang kakinya saja yang dibungkus kulit. ditangan kanannya memegang tongkat yang berukuran sekitar satu meter yang terbuat dari paralon.
" maaf mbak..sekiranya ada sedekah buat saya?" suara purau itu terdengar berat keluar. Aku pun menatap Pak tua itu, bulir-bulir peluhnya mengalir dipelipis dan lehernya, tampak lelah sekali wajahnya. Dalam hatiku berkata 'pastilah bapak tua ini sudah menempuh perjalanan yang lama, sehingga ia begitu berkeringat ditengah lembabnya cuaca sore ini'.
" ini pak...semoga bermanfaat..".Akupun menyodorkan selembar puluhan ribu yang sudah kupegang.
Pak tua itu menerimanya dengan berdiri, menunduk seraya mengucapkan terimakasih.
"Terimakasih banyak mbak....ini buat buka puasa nanti.." Panas terasa mataku, mengaburkan pandangan, baru kutahu saat beliau berdiri ternyata kedua lutut kakinya yang kecil itu bengkok. beliau tak bisa berdiri dengan tegak, mungkin itulah alasannya tongkatnya tak lepas dari genggamannya. dan mungkin itu juga alasan kenapa beliau memakai celana pendek, karna kakinya yang bengkok dan pendek itu tak bisa dipakaikan celana panjang.
Mataku semakin panas dan menumpahkan lahar dinginnya saat dari bibir pak tua itu keluar doa-doa tulus untuk keselamatanku, keluargaku, anak didikku, dan berderet kalimat panjang yang tak segera berakhir dan semua itu berisi kesyukuran dan doa yang dipanjatkan untukku. Aku pun tak henti mengamini semuanya.
Ya Robbi....hatiku pilu sekaligus malu mendengarkan kalimat beliau, betapa besar kesyukurannya. Beliau yang hanya mendapatkan selembar uang menyatakan begitu banyak ungkapan syukur, sedangkan aku setiap awal bulan mendapatkan gaji biasa saja bahkan kadang mengeluh saat ada pemotongan atau menerima tak sesuai dengan harapan. Betapa mulia sekali hati bapak tua ini...
tiba-tiba pikiran serakahkupun muncul, masih sempat-sempatnya ku request untuk satu doa lagi..
" semoga mbak juga mendapatkan jodoh yang baik akhlaknya yang kan membahagiakan mbak di dunia maupun akhirat. semoga laki-laki ahmad yang sholeh dan baik..." dan masih panjang lagi... akupun mengaminkan dengan sepenuh hati, bertambah malu rasanya tak sebanding apa yang ku berikan dengan apa yang dia berikan untukku, ketulusannya bak malaikat. "Ya Rabb....lindungilah bapak ini, luaskanlah rizkinya,,,"bisik hatiku terbata.
" Sekali lagi terimakasih mbak....saya pamit dulu, belum sholat ashar..." Pak tua itu berpamitan seraya membalikkan badan dan akan segera berlalu.
"Iya bapak...saya juga mengucapkan banyak terimakasih karna sudah didoakan..hati-hati ya pak..."
Ku menatap Pak tua itu berjalan terseok-seok, dengan tongkat paralonnya sebagai kaki ke tiganya yang ikut menopang tubuhnya. ku pun tak beranjak memandangnya dengan sesekali mengusap mutiara yang mengalir dari sudut mataku. hatikupun tak henti-hentinya berucap
" Rabb....jaga dan lindungi beliau, luaskan rizkinya, masukkan beliau dalam golongan orang-orang yang sabar, dan angkatlah derajatnya...Amiin." hingga pandanganku tak lagi bisa melihat beliau yang berlalu dibalik tembok pagar.

kukar, 20 Ramadhan 1434H



Tidak ada komentar:

Posting Komentar