Senin, 09 September 2013

Idul Fitri Lalu

Sore yang redup, dengan semilir angin membelai kuncup, rasa kantuk pun menyerang berat mata ini rasanya untuk melek,bagai bola lampu 5watt yang telah bertahun-tahun dipakai tinggal sedikit daya yang redup dan kabur, "ohh mata......ayolah sedikit berkompromi,,,jangan jadikan kantuk sebagai alasan memalaskan kelopak matamu untuk terbuka dan memelototi angka2....."

"hoaamm.." lagi-lagi mulutpun menguap lebar, seakan ingin menyedot apa saja yang ada disekitarnya,hooo tak terbayang apa jadinya kalo benar-benar tersedot....oh no.....
untuk mengusir rasa kantuk ini ku coba untuk memencet tombol keybord pada komputer yang sepertinya juga mulai bosan dan lelah ku pandangi seharian, tapi tak apalah toh ia tak bisa lari aja,heee


tanganku tergerak untuk menuliskan sebuah momen idul fitri sebulan lalu, ah...mengingatnya jadi semakin perih mata ini. kali ini tentang Babeku, seorang sosok ayah yang sudah keriput dimakan usia, tapi masih sangat semangat untuk pergi berkebun, tubuhnya yang sudah kurus, kecil dan lumayan pendek karena memang dari dulu tak pernah tinggi (maaf be.....) tak menghalanginya untuk tetap bercengkerama dengan sayur-sayuaran yang setiap hari dibelainya dengan tangan kasar beliau.

Kembali ke laptop, Idul Fitri kali ini menjadi momen yang beda dari tahun-tahun sebelumnya, yang beberapa tahun lalu merayakan bersama keluarga budhe,tanpa kedua ortu kali ini ada bersama mereka. Masih bisa sungkem pada keduanya merupakan anugrah yang harus dan wajib disyukuri, karna banyak dari teman ataupun sahabat lain yang sudah tak bisa mencium tangan perkasa kedua orang tuanya.

Bagiku saat itu adalah saat yang paling mengharukan, yang tak sepadan ataupun sebanding dengan keharuan saat menonton film2 kolosal  india yang menguras airmata itu. Ada getar yang menyeruak dalam kalbu kala tangan saling menjabat, tangan yang selama ini membimbimbingku dalam segala hal, yang membelaiku penuh kasih, yang tak pernah lelah melayani dan memenuhi segala keperluanku selama ini. Tangan Ibu yang penuh kasih, pertama tangan itu yang ku jabat erat, sungkem penuh takdzim untuk mengharap maaf atas segala kebengalanku yang entah tak terhitung lagi dalam jumlah bilangan. Airmataku pun tak ayal mengalir deras yang kemudian diiringi sebuah pelukan hangat dari beliau, kurasakan juga hangatnya airmata beliau disertai gumaman kecil yang berisi permohonan maaf juga padaku, "Ah...ibu......aku yang terlalu banyak salah, engkau tak pernah, sekalipun, dan apapun yang kau lakukan semata demi kebaikanku, engkau selalu benar ibu...bahkan tetap benar ketika kadang hatiku menolak dengan keputusanmu" hatiku pun menjawabnya tanpa diiringi suara yang keluar dari mulut ini.

Tiap Idul fitri selalu ada moment hujan airmata seperti itu jika bersama ibu, namun tidak dengan Bapak. Entah karena beliau laki-laki yang lebih menekankan akal dan menyembunyikan perasaan atau karna hal lain, yang kutahu biasanya beliau hanya akan menunduk seraya membelai kepalaku ketika aku sungkem pada beliau.
Namun kali ini berbeda, entah karena kami lama tak bersama pada lebaran sebelum2nya atau karna hal lain. Saat ku menjabat tangan kasar beliau yang penuh perjuangan menghidupi kami, dan saat keluar kata-kata permohonan maaf seraya kucium tangan beliau, beliau berseru 'Allah" dengan suara keras yang kemudian diikuti sesenggukan dan airmata, tidak pelan lagi bapak tergugu dengan memelukku akupun lama mendekapnya. Ada sedih yang menyayat hatiku entah karena apa, baru kali ini kulihat Bapak melepaskan perasaannya dengan benar-benar lepas sampai tak malu lagi tergugu dihadapanku dan ibuku,
" Bapak....selama ini kukira engkau orang yang sangat kaku, selama ini aku menilaimu dengan segala kekurangan itu,kuanggap engkau selalu otoriter dan keras kepala, hari ini ku menyaksikanmu begitu tulus dalam belaian, dan airmata yang kau simpan selama ini, maafkan aku atas segala penilaianku, atas segala keegoisanku terhadap salah yang mungkin segaja kubuat...."

Dengan berurai airmata kulepas pelukan bapakku, betapa beruntungnya aku memiliki kedua orangtua seperti mereka, betapa beruntungnya aku karna masih bisa mendekap mereka, harusnya bukan hanya Idul fitri saja sungkem seperti itu kulakukan, harusnya setiap saat, karna kku tak tahu apakah nanti aku masih tetap bersamanya.
Semoga kalian diberikan kesehatan, umur yang panjang penuh keberkahan, diampuni dosa-dosanya, dan kepadaNya kumohonkan JannahNya untuk mu Ibu,,,,Bapak,,,,,,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar