Rindu ini terkungkung dalam sebuah kotak bergambar simbol hati dengan kombinasi warna yang cantik. hitam, putih,merah,pink, serasi dan sangat indah dipandang. Lengkap dengan secarik kertas didalamnya beserta bekas goresan tinta dari jemarimu. hanya itu....isinya telah ku simpan dari jangkauan mataku. kini rindu itu yang menempati, tersimpan rapat. sebagaimana wanginya yang masih tercium samar-samar...lekat dalam bingkai kenangan....
" Astagfirullohal'adzim...."seruku dalam hati. ini tak boleh dibiarkan...cukup!
"aku harus bagaimana mbak?' Tantri sesenggukan menatapku pilu. Nampak betapa beban berat tengah menggantung dimatanya.
Aku bingung entah perasaan apa yang sedang kurasakan saat ini. Kesal, jengkel, kasihan, tak tega, campursari sekali pokoknya. Kesal karena hal yang sama dengan kejadian yang menimpaku setahun silam kini dialaminya. memang tak mudah mendamaikan hati yang tengah meradang. luka itu baru saja tergores.
"Sudahlah tan...hidup ini harus realistis. memang berat, tapi aku yakin kamu wanita hebat yang mampu melenggang dengan gagah diatas semua ini. Mungkin belum sekarang tapi yakin nanti pasti bisa." ucapku seraya tersenyum mengelus pundaknya.
" Aku salah mbak, tak seharusnya ini terjadi andai aku bisa lebih realistis waktu itu. Tapi apa boleh buat mbak, cinta datang dengan sendirinya, semakin hari semakin kuat,menggedor-gedor relung hatiku meminta untuk kugapai. sementara itu kuntumnya telah termiliki yang lain. Aku tak kuasa menyimpannya mbak....."
Semakin deras hujan dari sudut matanya itu mengguyur pipinya yang lonjong. " kamu tidak salah tantri.....berhentilah menyalahkan diri sendiri. Keadaan yang membuat ini terasa berat. Ada rencanaNya yang indah yang masih belum kamu mengerti...belajarlah untuk ikhlas..."
kata-kata itu meluncur begitu saja, ringan....aku sadar ini nasihat untuk diriku sendiri bukan semata buat Tantri.
" apa aku tak pantas untuk bahagia mbak? kenapa Tuhan memberikan cobaan ini untukku, ini tak adil mbak......sakit mbak....."
" Sudah Tantri, berhetilah meranyau!" ucapku dengan nada meninggi. " Tak perlu mengadili Tuhan. Kurang adil apa yang kau rasakan saat ini kau masih punya orangtua yang lengkap, kasih sayang mereka jauh lebih besar daripada orang yang tengah kau ratapi" sungguh aku tak suka dengan ucapannya.
" sakit mbak....sakit sekali untuk sekedar bernafas." kali ini ucapannya melemah
" aku tahu Tan....sangat paham dengan keadaanmu ini, aku pernah berada diposisi yang sama denganmu saat ini. Memang sakit...tapi kita punya Allah untuk mengadu. Mendekatlah, ikhlaslah,,perlahan saja. jangan turuti emosimu...waktu kan menghapusnya. Nanti tantri...bukan sekarang, kamu harus sabar...." kudekap tubuhnya ia semakin terisak.
######
Selang seminggu setelah kejadian itu, Tantri tampak lebih segar matanya yang sayu lebih bercahaya dibanding hari-hari sebelumnya.
" Terimakasih ya mbak....karena mbak Lis yang terus mendampingi hari-hari saya, sekarang saya bisa lebih tenang." katanya padaku.
" sama-sama tan....itu karena kamu mau berusaha untuk bangkit, kalau tak ada niat darimu sendiri tak bisa biar ku omeli sampe dower bibir ni."heheee kita tertawa bersama ada hangat yang menyusup. Lega rasanya melihat saudariku yang lebih bisa menerima keadaan.
" Terkadang menjadi munafik itu lebih baik daripada harus menunjukkan yang sebenarnya dengan mengumbar kesedihan dimana-mana." ucapnya menerawang.
Aku paham tak semudah menghapus goresan pensil dikertas putih dengan penghapus. ini tinta, tak bisa dengan penghapus, perlu materi lain untuk menutup agar tak nampak goresannya.
"benar Tan... keikhlasanmulah yang mendasari itu, baguslah kita dinilai tak ada masalah, hari-hari kita enjoy tanpa beban, itu sebuah doa tan...."
" iya mbak...aku tahu belum sepenuhnya ikhlas, tapi aku berusaha untuk mencapai keikhlasan itu. sekali lagi makasih banyak ya mbak....."
akupun mengangguk pelan.
Sungguh sebuah perjuang yang tak mudah untuk melupakan seorang yang berarti dalam hidup, tak mudah menidak biasakan hal yang telah terbiasa selama kurun waktu yang lama dan di dianggap keramat. Namun hidup harus tetap berjalan maju, bukan mundur, menoleh sesekali tak apa untuk mengetahui seberapa jauh kita melangkah. Tapi jika tetap menoleh kebelakang, kita bisa tergelincir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar