Tidak hanya akhir-akhir ini tetapi kemaren-kemaren, bahkan dari dulu sering telinga ini dengan atau tanpa sengaja mendengar orang dengan dalih menasehati supaya "jangan terlalu memilih-milih dalam mencari pasangan hidup". Dan entah mengapa saya sangat tidak setuju dengan argumen itu, agak sentimen mendengarnya. Menurutku ini argumen yang tak berdasar dan tak bisa dijadikan rujukan bagaimana supaya cepet dapat pasangan hidup, menikah, lalu berbahagia. Tak semudah dan sesimpel itu bukan??
Rumah tangga adalah sebuah pokok pondasi yang bangunannya tidak hanya akan berdiri dialam dunia saja, ia akan terus berdiri sampai kelak di akhirat. Menjadi jalan utama yang akan menentukan kita apakah layak sampai dengan tujuan kita surga atau akan membelokkan kita kepada azab neraka. Kebaikan akhlak seseorang dalam lingkup keluarga akan mempengaruhi akhlaknya dilingkungan dan orang2 sekitar. Lantas apakah kita tidak perlu memilih pasangan hidup yang mampu menuntun kita dalam kebaikan dan bersama-sama menjadi insan kamil?
Dari sudut pandang manapun seseorang pasti mempunyai kriteria tersendiri dalam memilih pasangan hidupnya. Jangankan pasangan hidup yang untuk seumur hidup sekali, untuk sekedar membeli baju saja yang bisa setiap saat bisa dibeli seseorang bisa berjam-jam bahkan memesan jauh-jauh hari untuk dapat baju yang sesuai dengan apa yang diinginkan, nyaman dipakai serta enak dilihat,ditambah lagi modis dan tak terlihat tertinggal trend yang lagi update.
Sebagai seorang muslim kita punya dasar yang cukup jelas dalam mengambil keputusan, yaitu berupa Alquran dan Hadits. Disana telah terangkum bagaimana kriteria yang benar dalam memilih pasangan hidup. Sebagaimana hadist dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa
Sallam, beliau bersabda : “Perempuan itu dinikahi karena empat perkara,
karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya, lalu
pilihlah perempuan yang beragama niscaya kamu bahagia.” (Muttafaqun
‘Alaihi).
Lalu adakah alasan kita untuk tidak memilih? tentunya memilih yang sesuai dengan hadits tersebut. bukan hanya laki-laki perempuan juga memiliki hak yang sama dengan pilihan tersebut.
Hal ini diperkuat juga oleh hadits :
“Jika ( seorang lelaki) datang ( untuk meminang anak perempuan kamu)
dan kamu berpuas hati dengan agamanya serta akhlaknya, nikahkanlah ia (
dengan anak perempuan kamu). Jika hal itu tidak kamu lakukan maka akan
terjadi fitnah di (muka) bumi.”
Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA itu, Rasulullah SAW
meletakkan asas pertama yang kuat, dasar yang kukuh, prinsip yang sehat
dan kaedah yang tepat dalam memilih suami.
Kali ini masuk pada sudut pandang perempuan. Perempuan diidentikkan dengan mahkluk yang selalu mengedepankan perasaannya dibandingkan rasionya, cenderung lemah,dan ingin dilindungi. Meskipun tak semuanya sama, banyak perempuan-perempuan mandiri, yang kuat dan mampu untuk berkarya yang tak hanya berlindung di bawah ketiak laki-laki saja. Tapi pada hakikatnya mereka mempunyai kodrat yang sama mengandung ,melahirkan, menyusui,dll. Mereka bisa berperan sebagai istri,ibu, dan lain sebagainya dengan tetap mengedepankan perasaannya.
Perempuan sebagai seorang istri dituntut untuk berbakti kepada suaminya, mentaatinya, dan selalu berpenampilan yang menyenangkan untuk suaminya. Begitu besarnya Allah memberikan perhatian kepada seorang suami, sehingga memerintahkan pada istri untuk tunduk dan patuh pada suaminya. Dan Allah pun mengganjar dengan pahala hal yang setimpal terhadap istri yang mau taat kepada suaminya. tentunya dalam hal kebaikan. Jadi keduanya seimbang tanpa ada yang merasa lebih hebat satu sama lain.
Demikianlah lelaki sebagai suami menjadi sosok yang wajib dihormati, dpatuhi serta ditaati. Menjadi Imam yang akan menuntun istrinya , menjadi sahabat yang akan setia mendengarkan celotehnya, meluruskannya ketika berbelok, menasehatinya ketika bersalah, dan menjadi jalan bagi perempuan yang bergelar istri tersebut untuk meraih JannahNya.
Dengan demikian bukankah memilih calon pasangan hidup yang baik, yang mengerti dan paham tentang ilmu agama menjadi salah satu ikhtiar untuk kelak terbentuknya keluarga yang sakinah,mawaddah wa rohmah yang selalu dalam bingkai keridhoanNya?. Karena dapat dipastikan orang yang mengerti dan memahami ilmu agama dengan baik akan mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-harinya sesuai tuntunan agama. Mereka memiliki bingkai pengetahuan yang berdasar dan dapat dipertanggungjawabkan.
Lalu salahkah dengan memilih?? Tentunya tidak. Dengan merujuk hadits yang diatas bahkan sangat dianjurkan.
Bila ditaqdirkan kita diberi jodoh yang tdk sesuai dengan apa yg kita harapkan... apa yg kita lakukan????
BalasHapussimpel aja...selama telah berikhtiar dengan maksimal dan itu yang didapat, berarti itulah yang terbaik driNya, disyukuri dan tetap berikhtiar untuk tumbuh bersama dalam kebaikan. karna sesuai dalilNya "perempuan yang baik hanya untuk laki2 yang baik, begitu pula sebaliknya."
BalasHapus