Jumat, 29 November 2013

Sang Imam

Entah sejak kapan Masjid ditengah perbatasan dua desa itu menjadi tempat singgah favoritku sehabis mengajar les privat. Selalu ada moment yang tepat untuk mampir di masjid itu karena memang les selesai bertepatan dengan dikumandangkannya azan maghrib. Awalnya memang hanya mampir untuk sholat maghrib yang kemudian akan meneruskan les privat lagi ketempat lain. Sejak saat itu jadi berlangganan jama'ah di sana meski kadang harus masbuk karena terlalu telat datangnya.

Disana, di masjid yang tak terlalu besar dengan jama'ah yang hanya satu shaff laki-laki dan satu atau dua orang jamaah perempuan itu terasa ada damai yang menyusup kalbu. Terasa ada cahaya yang menyinari lorong gelap yang sunyi diantara bilik hati yang kosong. Indah.....tak tau perasaan apa ini.
Yang pasti jadwal mengajar les privat itu menjadi saat yang kunanti-nanti dimana ku bisa mampir dimasjid itu.

#### Pertemuan ke-1
" Permisi, tempat wudhu wanita dimana ya?" aku bingung saat pertama kali ku injakkan kaki dimasjid itu, karena tak ada jamaah wanita yang sedang wudhu disana, hanya ada satu orang nenek yang sudah siap dengan mukenanya di dalam masjid itu. sesosok laki-laki yang selesai berwudhu itu nampak terheran.
" oh, ya disini juga.silahkan..." jawabnya mempersilahkan.
" iya terimakasih..." jawabku seraya beranjak, ada desiran yang mengalir lembut tatkala mata kami saling bertemu. "astagfirullah" seruku dalam hati. kemudian hanya menunduk seiring berlalunya ia dari hadapanku.

Sesosok tubuh yang tegap tak terlalu tinggi juga tak pendek dengan baju koko dan sarung yang bersih dan terlihat rapi. yah, seperti umumnya yang dipakai santri-santri dari pesantren.
" Subhanallah sempurna" gumamku dalam hati.

Kalimat tahmid,tasbih,dan takbir bergema, meski dengan jamaah yang tak terlalu banyak namun suaranya menggetarkan kalbu. Alam pun ikut memuja asmaNya diantara cahaya kuning kemerahan diufuk barat, damai....Inilah karunia nikmat Islam& iman, ditengah upaya menunggu penyempurnaannya.

Selesai sholat berjamaah dan dzikir bersama akupun bergegas meninggalkan masjid itu. Begitupun juga dengan jama'ah yang lain satu per satu berlalu. Ketika telah sampai di halaman masjid tepat dimana motorku terparkir, tanpa sengaja terlihat di dalam masjid sesosok tubuh yang masih khusyuk dengan sujudnya. Seakan ingin terus bersama disaat terdekatnya pada sang Kholiq.
" Subhanallah...lelaki yang tadi" lagi-lagi ku berdecak kagum dalam hati.

#### Pertemuan Ke-2
Adzan telah berkumandang tatkala kuda besi yang selalu mengantarku kemana saja ku mau keluar pelataran parkir rumah megah yang belum jadi secara sempurna itu. Lambaian tangan mungil di depan pintu mengantarku hingga menghilang diujung gang, dialah Farel murid privat yang selalu berhasil membuatku mati gaya. Usianya baru 6 tahun tapi celotehnya mirip sekali dengan anak dewasa disenetron-sinetron anak jaman sekarang. pernah aku dibilangnya seperti anak kecil, tatkala kusuruhnya segera merapikan buku-bukunya karna jam pelajarannya telah habis.
" ibu ini gak sabar betul, kaya anak kecil aja". begitu celotehnya
bagai dihadiahi sebuah tamparan tangan algojo dimukaku, malu...bercampur heran juga takjub, baru kali ini ada anak seusia itu yang berani mengataiku sedemikian tajamnya. Dan aku pun bertermakasih karena dengan begitu aku bisa memperbaiki diri, terutama untuk sifat tak sabarku.

Seperti biasa masjid di perbatasan desa itu menjadi tujuanku selanjutnya. Dan untunglah baru terdengar iqomah saat melangkahkan kaki memasuki pelataran masjid.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar